Interpretasi Hasil Laboratorium untuk Diagnosis TBC

Menerima secarik kertas berisi hasil laboratorium bisa terasa membingungkan, terlebih jika menyangkut diagnosis penyakit serius seperti tuberkulosis (TBC). Istilah medis yang asing dan angka-angka yang rumit seringkali membuat cemas. Padahal, pemahaman yang benar terhadap interpretasi hasil laboratorium untuk diagnosis TBC adalah langkah awal yang krusial bagi kamu dan dokter untuk menentukan pengobatan yang tepat.

Mengapa Diagnosis TBC Membutuhkan Konfirmasi Laboratorium?

TBC disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis. Gejalanya seperti batuk kronis, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan seringkali mirip dengan penyakit pernapasan lainnya. Oleh karena itu, dokter tidak bisa hanya mengandalkan gejala klinis. Dibutuhkan pemeriksaan laboratorium yang akurat untuk “melihat” keberadaan bakteri atau respons tubuh terhadapnya. Konfirmasi ini penting untuk memastikan diagnosis, mencegah kesalahan pengobatan, dan memutus rantai penularan ke orang lain di sekitar kamu.

Menurut World Health Organization (WHO), diagnosis TBC yang cepat dan akurat melalui metode laboratorium modern adalah salah satu pilar utama dalam strategi global untuk mengeliminasi TBC.

Jenis-Jenis Pemeriksaan Laboratorium Utama untuk TBC

Secara garis besar, pemeriksaan TBC dibagi menjadi dua kategori: pemeriksaan untuk menemukan kuman secara langsung (bakteriologis) dan pemeriksaan untuk mendeteksi respons imun tubuh (imunologis). Mari kita bahas satu per satu.

Pemeriksaan Bakteriologis

Ini adalah metode paling definitif untuk mendiagnosis TBC aktif, karena tujuannya adalah menemukan bakteri M. tuberculosis itu sendiri dalam sampel (biasanya dahak).

1. Pemeriksaan Mikroskopis Dahak (BTA – Basil Tahan Asam)

Ini adalah tes TBC yang paling umum dan mendasar, seringkali menjadi langkah pertama dalam skrining. Petugas laboratorium akan mewarnai sampel dahak kamu dengan pewarnaan khusus (Ziehl-Neelsen). Bakteri TBC memiliki dinding sel yang unik sehingga akan menahan zat warna tersebut, membuatnya tampak sebagai batang merah di bawah mikroskop.

  • Bagaimana Hasilnya Diinterpretasikan?
    • Positif (+): Ditemukan bakteri tahan asam. Hasilnya dilaporkan dalam skala gradasi, seperti 1+, 2+, atau 3+, yang menunjukkan seberapa banyak bakteri yang ditemukan. Semakin tinggi angkanya, semakin banyak kuman dan semakin tinggi potensi penularannya.
    • Negatif (-): Tidak ditemukan bakteri tahan asam pada sampel yang diperiksa.
  • Penting untuk Diketahui: Hasil BTA negatif tidak selalu berarti kamu bebas TBC. Mungkin saja jumlah kuman dalam dahak sangat sedikit sehingga tidak tertangkap mikroskop (disebut pauci-bacillary). Oleh karena itu, dokter sering meminta 3 sampel dahak (SPS – Sewaktu-Pagi-Sewaktu) untuk meningkatkan akurasi. Tes ini juga tidak bisa membedakan apakah bakteri TBC tersebut kebal terhadap obat atau tidak.
2. Tes Cepat Molekuler (TCM) atau GeneXpert

TCM adalah terobosan dalam diagnosis TBC. Metode ini berbasis PCR (Polymerase Chain Reaction) yang bekerja dengan mendeteksi materi genetik (DNA) dari bakteri TBC. Akurasinya jauh lebih tinggi dibandingkan BTA dan hasilnya bisa didapat hanya dalam waktu sekitar 2 jam.

  • Bagaimana Hasilnya Diinterpretasikan?
    • MTB Detected (MTB Terdeteksi): Ditemukan DNA bakteri TBC dalam sampel. Hasil ini mengonfirmasi diagnosis TBC aktif. Laporan akan disertai tingkat deteksi (misalnya High, Medium, Low, Very Low).
    • MTB Not Detected (MTB Tidak Terdeteksi): Tidak ditemukan DNA bakteri TBC. Kemungkinan besar kamu tidak menderita TBC aktif pada organ yang diperiksa.
    • Rifampicin Resistance DETECTED: Ini adalah keunggulan utama TCM. Hasil ini menunjukkan bakteri TBC yang ada di tubuh kamu kemungkinan besar kebal (resistan) terhadap Rifampisin, salah satu obat anti-TBC (OAT) lini pertama yang paling penting. Ini mengindikasikan kasus TBC Resistan Obat (TBC RO).
    • Rifampicin Resistance NOT DETECTED: Bakteri TBC kemungkinan sensitif terhadap Rifampisin. Kamu bisa melanjutkan pengobatan dengan OAT lini pertama.
    • Invalid/Error: Terjadi kegagalan teknis pada mesin atau kualitas sampel kurang baik. Perlu dilakukan pengulangan tes.
3. Biakan (Culture) Kuman TBC

Biakan atau kultur dianggap sebagai standar emas (gold standard) dalam diagnosis TBC. Sampel dahak kamu akan “ditanam” pada media khusus di laboratorium untuk menumbuhkan bakteri M. tuberculosis. Jika bakteri tumbuh, diagnosis TBC terkonfirmasi 100%.

  • Kelebihan: Paling sensitif, bisa mendeteksi kuman meski jumlahnya sangat sedikit. Bakteri yang tumbuh kemudian dapat diuji kepekaannya terhadap berbagai jenis OAT secara lengkap (Uji Kepekaan Obat).
  • Kekurangan: Prosesnya sangat lama. Bakteri TBC tumbuh sangat lambat, sehingga hasilnya baru keluar setelah 2-8 minggu. Karena itu, tes ini tidak digunakan untuk diagnosis cepat awal, melainkan untuk konfirmasi pada kasus yang meragukan atau untuk menentukan regimen pengobatan TBC Resistan Obat yang kompleks.

Pemeriksaan Imunologis: Mendeteksi Jejak Pertahanan Tubuh

Metode ini tidak mencari kuman secara langsung, tetapi mendeteksi respons sistem imun tubuh kamu terhadap infeksi TBC. Penting untuk dipahami, tes ini tidak bisa membedakan antara TBC Laten dan TBC Aktif.

  • TBC Laten: Kuman TBC ada di dalam tubuh, tetapi dalam kondisi “tidur” (dorman). Kamu tidak sakit, tidak bergejala, dan tidak menularkan.
  • TBC Aktif: Kuman TBC aktif berkembang biak, menyebabkan kerusakan organ, menimbulkan gejala, dan bisa menularkan ke orang lain.
1. Tes Tuberkulin (Tuberculin Skin Test / TST / Tes Mantoux)

Tes ini dilakukan dengan menyuntikkan sedikit cairan protein (antigen) kuman TBC yang disebut PPD (Purified Protein Derivative) di bawah kulit lengan bawah. Setelah 48-72 jam, petugas kesehatan akan mengukur benjolan keras (indurasi) yang muncul, bukan kemerahannya.

  • Bagaimana Hasilnya Diinterpretasikan?
    • Pengukuran dilakukan pada diameter indurasi (pembengkakan), bukan kemerahan.
    • Positif: Ukuran indurasi mencapai ambang batas tertentu. Ambang batas ini berbeda-beda tergantung riwayat dan kondisi kesehatanmu:
      • ≥ 5 mm: Dianggap positif untuk orang dengan HIV, kontak erat pasien TBC, atau memiliki gambaran rontgen yang khas TBC.
      • ≥ 10 mm: Dianggap positif untuk petugas kesehatan, anak di bawah 4 tahun, atau orang dengan kondisi medis tertentu (misal: diabetes, gagal ginjal).
      • ≥ 15 mm: Dianggap positif untuk semua orang tanpa faktor risiko di atas.
    • Negatif: Indurasi kurang dari ambang batas di atas.
  • Penting untuk Diketahui: Hasil positif hanya berarti tubuh kamu pernah terpapar kuman TBC dan membentuk kekebalan, bisa karena infeksi laten, penyakit aktif, atau bahkan karena vaksinasi BCG (meski pengaruhnya kecil pada orang dewasa). Hasil tes ini bisa menjadi positif palsu (misalnya karena infeksi bakteri non-TBC) atau negatif palsu (misalnya pada orang dengan sistem imun yang sangat lemah seperti penderita gizi buruk atau HIV stadium lanjut).
2. Tes IGRA (Interferon-Gamma Release Assay)

IGRA adalah tes darah yang lebih modern dan spesifik dibandingkan Tes Mantoux. Tes ini mengukur pelepasan zat bernama interferon-gamma oleh sel darah putih ketika terpapar antigen spesifik TBC. Tidak seperti Mantoux, hasil IGRA tidak dipengaruhi oleh riwayat vaksinasi BCG.

  • Bagaimana Hasilnya Diinterpretasikan?
    • Positif: Ditemukan respons imun yang signifikan terhadap antigen TBC. Mengindikasikan adanya infeksi TBC (aktif atau laten).
    • Negatif: Tidak ada respons imun yang signifikan. Kemungkinan besar tidak ada infeksi TBC.
    • Indeterminate/Borderline (Ragu-ragu): Hasil tidak jelas, bisa disebabkan masalah teknis atau kondisi imun pasien. Perlu diulang atau dievaluasi lebih lanjut.

Pemeriksaan Penunjang Lainnya

Selain tes utama di atas, dokter sering menggunakan pemeriksaan penunjang untuk melengkapi gambaran klinis.

  • Rontgen Dada (Chest X-ray): Pemeriksaan ini sangat penting untuk melihat kondisi paru-paru. Pada pasien TBC, rontgen sering menunjukkan gambaran khas seperti bercak putih (infiltrat), lubang (kavitas), atau pembesaran kelenjar getah bening, terutama di bagian atas paru-paru. Namun, gambaran ini tidak selalu spesifik dan bisa mirip dengan penyakit paru lain. Rontgen tidak bisa mengonfirmasi TBC, tetapi sangat membantu dalam evaluasi tingkat keparahan dan pemantauan pengobatan.
  • Tes Darah Lengkap dan Laju Endap Darah (LED): Tes ini tidak spesifik untuk TBC. Peningkatan sel darah putih atau LED yang sangat tinggi bisa menunjukkan adanya proses peradangan atau infeksi kronis di tubuh, yang mendukung kecurigaan TBC, tetapi tidak bisa menjadi dasar diagnosis.

Perbandingan Pemeriksaan Laboratorium TBC

Untuk memudahkan kamu memahami perbedaan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing tes, perhatikan perbandingan berikut.

Nama Tes Sampel Apa yang Dideteksi Kelebihan Kekurangan Fungsi Utama
Mikroskopis Dahak (BTA) Dahak Bakteri Tahan Asam secara visual Murah, cepat, tersedia luas Sensitivitas rendah, tidak bisa deteksi resistansi obat Skrining awal TBC Paru Aktif
Tes Cepat Molekuler (TCM) Dahak, cairan tubuh lain DNA bakteri TBC & mutasi gen resistansi Rifampisin Sangat akurat, cepat (±2 jam), mendeteksi resistansi obat Biaya lebih mahal, butuh alat khusus Konfirmasi TBC Aktif & skrining TBC Resistan Obat
Biakan (Culture) Dahak, jaringan, cairan tubuh Pertumbuhan bakteri TBC hidup Standar emas, paling sensitif, untuk uji kepekaan obat lengkap Sangat lama (2-8 minggu) Konfirmasi kasus sulit & dasar pengobatan TBC RO
Tes Mantoux (TST) Reaksi kulit Respons imun seluler (hipersensitivitas tipe lambat) Murah, sederhana Butuh 2 kali kunjungan, dipengaruhi vaksin BCG, subjektif Skrining infeksi TBC Laten
Tes IGRA Darah Pelepasan Interferon-gamma oleh sel imun Hanya 1 kali kunjungan, objektif, tidak dipengaruhi vaksin BCG Mahal, butuh lab canggih Skrining infeksi TBC Laten (alternatif Mantoux)
Rontgen Dada Gambar radiologis Kelainan pada anatomi paru-paru Cepat, memberikan gambaran luas kondisi paru Tidak spesifik, tidak bisa konfirmasi diagnosis Pemeriksaan penunjang, evaluasi keparahan, & pemantauan

Memahami interpretasi hasil laboratorium TBC memberdayakan kamu untuk menjadi partner aktif dalam proses pengobatan. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap hasil tes adalah satu kepingan puzzle. Diagnosis TBC tidak pernah ditegakkan hanya dari satu hasil lab, melainkan dari kombinasi gejala klinis yang kamu rasakan, hasil pemeriksaan fisik oleh dokter, serta serangkaian hasil pemeriksaan laboratorium dan penunjang yang saling melengkapi.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan informasi, bukan untuk menggantikan nasihat medis profesional. Jangan pernah mendiagnosis diri sendiri atau mengubah pengobatan berdasarkan informasi yang kamu baca. Selalu diskusikan hasil laboratorium kamu secara mendetail dengan dokter yang merawat. Merekalah yang memiliki keahlian untuk menginterpretasikan semua data secara komprehensif dan memberikan rencana pengobatan terbaik untuk kondisi kamu.

Daftar Pustaka

  • World Health Organization. (2022). Global tuberculosis report 2022. Geneva: World Health Organization.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  • Pai, M., Nicol, M. P., & Boehme, C. C. (2016). Tuberculosis diagnostics: state of the art and future directions. Microbiology spectrum, 4(5), 10.1128/microbiolspec.TBTB2-0019-2016.
5/5 - (3 votes)

Ahmad Hidayat is an academic and Medical Laboratory Scientist whose expertise lies at the intersection of clinical diagnostics and immunological science. He bridge theory and practice as a Lecturer and as the Founder of Labmed Indonesia, an organization dedicated to enhancing the standards and capabilities of laboratory medicine professionals in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sangat Direkomendasikan