Tahukah kamu bahwa hingga 70% kesalahan dalam hasil laboratorium medis sebenarnya terjadi bahkan sebelum sampel darah menyentuh mesin analisis canggih? Fase ini, yang dikenal sebagai fase pra-analitik, adalah “titik buta” terbesar dalam pelayanan kesehatan yang sering kali berakibat fatal pada diagnosis pasien.
Akurasi hasil laboratorium bukan hanya tentang seberapa mahal alat yang digunakan, tetapi seberapa disiplin prosedur pengambilan spesimen dijalankan. Dari hemolisis yang merusak sel darah hingga kesalahan pelabelan yang menukar identitas pasien, memahami kesalahan pra-analitik adalah kunci utama validitas diagnosis.
Baik, mari kita bedah beberapa kesalahan terbesar pada pra-analitik yang sering terjadi di lapangan dan bagaimana kamu sebagai tenaga medis atau pengelola laboratorium dapat mencegahnya sesuai standar internasional seperti Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI).
Hemolisis adalah penyebab paling umum dari penolakan spesimen di laboratorium klinis. Kondisi ini terjadi ketika membran sel darah merah pecah, melepaskan hemoglobin dan komponen intraseluler lainnya ke dalam serum atau plasma. Dalam konteks in vitro, ini hampir selalu disebabkan oleh kesalahan teknis saat flebotomi.
Ketika sel darah merah pecah, mereka melepaskan kalium (K+), laktat dehidrogenase (LDH), dan aspartat aminotransferase (AST) dalam jumlah besar. Akibatnya, hasil tes pasien akan menunjukkan hiperkalemia palsu (pseudohyperkalemia), yang dapat memicu keputusan medis yang berbahaya, seperti pemberian obat penurun kalium pada pasien yang sebenarnya memiliki kadar kalium normal.
Studi menunjukkan bahwa hemolisis ringan saja dapat meningkatkan kadar kalium hingga 3-5%, sementara hemolisis berat dapat mengacaukan hampir seluruh panel kimia darah.
Tidak ada toleransi untuk kesalahan ini. Kesalahan identifikasi pasien adalah mimpi buruk dalam dunia medis yang masuk dalam kategori sentinel event. Jika darah pasien A diberi label pasien B, maka pasien B bisa saja menerima transfusi golongan darah yang salah yang berakibat fatal.
Standar The Joint Commission mengharuskan penggunaan setidaknya dua pengidentifikasi (two patient identifiers), biasanya nama lengkap dan tanggal lahir atau nomor rekam medis. Kesalahan sering terjadi ketika pelabelan dilakukan jauh dari sisi pasien (away from bedside) atau melakukan pelabelan sebelum pengambilan darah (pre-labeling).
Banyak praktisi yang menganggap remeh urutan memasukkan darah ke dalam tabung, padahal ini adalah prinsip dasar kimia klinis. Order of draw dirancang untuk mencegah kontaminasi silang aditif antar tabung.
Jika kamu mengisi tabung dengan aditif EDTA (tutup ungu) sebelum tabung serum (tutup merah) atau tabung heparin (tutup hijau), sisa EDTA pada jarum dapat terbawa ke tabung berikutnya. EDTA bekerja dengan mengikat kalsium. Akibatnya, jika terkontaminasi, hasil pemeriksaan kalsium pasien akan sangat rendah palsu, dan kalium akan tinggi palsu.
Setiap tabung vakum dirancang dengan rasio aditif dan darah yang presisi. Masalah ini paling kritis pada tabung koagulasi (tutup biru) yang berisi Natrium Sitrat. Tabung ini harus terisi hingga tanda batas (rasio 9:1 antara darah dan antikoagulan).
Jika tabung kurang isi (underfilled), maka jumlah antikoagulan akan berlebih relatif terhadap darah. Ini akan mengikat kalsium secara berlebihan dan memperpanjang nilai APTT dan PT secara palsu. Sebaliknya, jika terlalu penuh (overfilled), darah bisa membeku karena kurangnya antikoagulan.
Pemasangan tourniquet yang terlalu lama (lebih dari 1 menit) bukan hanya membuat pasien tidak nyaman, tetapi mengubah komposisi darah secara fisiologis. Tekanan hidrostatik menyebabkan air dan molekul kecil keluar dari pembuluh darah ke jaringan (filtrasi), sementara molekul besar seperti protein, sel darah, dan kolesterol tetap terperangkap di dalam pembuluh darah.
Fenomena ini disebut hemokonsentrasi. Hasilnya? Peningkatan palsu pada parameter protein total, albumin, kalsium, enzim, dan hematokrit. Solusinya sederhana: lepaskan tourniquet segera setelah darah mulai mengalir ke tabung pertama.
Tabung EDTA (untuk Hematologi) atau Heparin (untuk Kimia) tidak boleh memiliki bekuan mikroskopis sedikitpun. Bekuan darah akan menyumbat alat hematology analyzer dan memberikan hasil trombosit yang rendah palsu (pseudothrombocytopenia).
Kesalahan ini biasanya terjadi karena keterlambatan dalam melakukan inversi (membolak-balik) tabung setelah pengambilan. Ingat, tabung harus segera diinversi 8-10 kali dengan lembut agar antikoagulan bercampur rata dengan darah. Jangan dikocok, tapi diinversi.
Perjalanan sampel dari ruang pengambilan ke laboratorium pusat penuh risiko. Suhu dan waktu adalah variabel kritis. Beberapa tes, seperti analisis gas darah atau amonia, memerlukan suhu dingin (es) segera. Tes lain, seperti bilirubin, bersifat fotosensitif dan akan rusak jika terpapar cahaya matahari atau lampu neon terlalu lama.
Selain itu, penundaan sentrifugasi lebih dari 2 jam dapat menyebabkan glikolisis (sel darah memakan glukosa dalam sampel), yang menyebabkan hasil glukosa darah turun drastis dari nilai sebenarnya.
Untuk mempermudah pemahaman kamu, berikut adalah tabel ringkasan kesalahan pra-analitik beserta dampak dan cara pencegahannya yang wajib diterapkan di fasilitas kesehatan.
| Jenis Kesalahan | Dampak pada Hasil Lab | Pencegahan Utama (SOP) |
|---|---|---|
| Hemolisis | K+ meningkat, LDH meningkat, AST meningkat | Hindari jarum kecil, jangan tarik plunger kuat, keringkan alkohol sebelum tusuk. |
| Salah Label | Hasil tertukar, reaksi transfusi fatal | Gunakan 2 identitas, label di depan pasien (bedside labeling). |
| Salah Urutan (Order of Draw) | Kontaminasi aditif (misal: Ca rendah, K tinggi) | Ikuti panduan CLSI: Kultur -> Sitrat -> Serum -> Heparin -> EDTA. |
| Volume Kurang (QNS) | Rasio antikoagulan salah (PT/APTT memanjang) | Isi tabung vakum sampai batas indikator pabrikan. |
| Hemokonsentrasi | Protein, Sel Darah, Kolesterol meningkat palsu | Lepas tourniquet < 1 menit. |
Untuk memvisualisasikan teknik pencegahan kesalahan di atas, kamu dapat menyimak video panduan berikut yang memperlihatkan prosedur best practice dalam flebotomi.
Sumber Video: Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK UNAND)
Kesalahan pra-analitik bukan sekadar masalah teknis, melainkan masalah keselamatan pasien yang serius. Dengan memahami ketujuh kesalahan fatal di atas, mulai dari hemolisis hingga masalah transportasi, kamu dapat berkontribusi signifikan dalam meningkatkan akurasi diagnosis medis.
Penerapan SOP yang ketat, pelatihan berkelanjutan, dan kepatuhan terhadap standar CLSI adalah benteng pertahanan terbaik. Pastikan kamu selalu melakukan pengecekan ulang identitas dan mengikuti urutan tabung dengan disiplin.
TTLM at RSUD Dr. Soetomo, Surabaya (Hematology and Immunohistochemistry Technician)