Dalam dunia diagnostik medis modern, akurasi hanyalah puncak gunung es; fondasi utamanya adalah traceability (ketertelusuran) hasil laboratorium yang menjamin validitas setiap angka yang dikeluarkan. Ketika kamu menerima hasil tes darah, apakah kamu pernah bertanya bagaimana laboratorium memastikan bahwa kadar kolesterol atau glukosa yang tertera benar-benar sesuai dengan standar internasional? Tanpa adanya rantai ketertelusuran yang tidak terputus, sebuah hasil laboratorium hanyalah angka tanpa makna yang berpotensi menyesatkan keputusan klinis.
Secara etimologis dan teknis, traceability dalam konteks laboratorium medis tidak berdiri sendiri. Mengacu pada definisi VIM (International Vocabulary of Metrology), ketertelusuran metrologi adalah sifat dari hasil pengukuran di mana hasil tersebut dapat dikaitkan dengan referensi melalui rantai kalibrasi yang terdokumentasi dan tidak terputus, di mana masing-masing berkontribusi pada ketidakpastian pengukuran.
Sederhananya, bayangkan sebuah “silsilah keluarga” untuk sebuah pengukuran. Hasil tes pasien kamu adalah “cucu”, yang dikalibrasi oleh alat “anak”, yang dikalibrasi oleh standar “orang tua”, hingga mencapai “leluhur” tertinggi yaitu Satuan Sistem Internasional (SI). Jika satu mata rantai ini putus, validitas hasil menjadi gugur.
Untuk memahami pengaruhnya pada pasien secara holistik, kamu harus membedakan dua jenis ketertelusuran yang berjalan beriringan dalam operasional laboratorium:
Ini berkaitan dengan “kebenaran” angka yang dihasilkan. Apakah 100 mg/dL glukosa di laboratorium A sama nilainya dengan 100 mg/dL di laboratorium B dan sama dengan standar murni glukosa di lembaga metrologi dunia? Ini melibatkan penggunaan Certified Reference Materials (CRM) dan metode referensi baku.
Sering disebut sebagai Chain of Custody. Ini memastikan bahwa tabung darah yang sedang dianalisis benar-benar milik pasien yang namanya tertera pada label. Ini melibatkan identifikasi pasien, pelabelan barcode, hingga pelaporan.
Agar hasil laboratorium dapat dipercaya secara global, laboratorium harus mematuhi hierarki kalibrasi yang ketat. Standar ISO 15189:2022 secara eksplisit mewajibkan laboratorium medis untuk menetapkan ketertelusuran metrologi dari hasil pengukuran mereka.
Berikut adalah tabel perbandingan tingkatan dalam hierarki ketertelusuran yang wajib kamu pahami:
| Tingkatan Hierarki | Deskripsi Material/Metode | Tingkat Ketidakpastian | Penggunaan |
|---|---|---|---|
| Puncak (Primer) | Standar Primer (SI Units) & Metode Referensi Primer | Sangat Rendah (Paling Akurat) | Dikelola oleh Institusi Metrologi Nasional (seperti NIST, BIPM). |
| Sekunder | Kalibrator Referensi Sekunder | Rendah | Digunakan oleh manufaktur alat (pabrik) untuk mengkalibrasi standar kerja mereka. |
| Manufaktur | Kalibrator Kerja Pabrikan (Working Calibrator) | Sedang | Digunakan untuk menetapkan nilai pada kalibrator komersial. |
| Laboratorium Klinis | Kalibrator Rutin & Hasil Pasien | Lebih Tinggi (Toleransi Klinis) | Digunakan sehari-hari di rumah sakit untuk memeriksa sampel kamu. |
Disinilah aspek High Quality Content berbicara. Kita tidak hanya membahas alat, tetapi nyawa manusia. Ketiadaan traceability menciptakan variabilitas yang tidak terkendali. Berikut adalah dampak langsungnya terhadap pasien:
Pasien sering berpindah rumah sakit atau dirujuk ke spesialis lain. Jika laboratorium pertama dan kedua tidak memiliki ketertelusuran ke standar yang sama, hasil tes bisa berbeda drastis meskipun kondisi pasien sama. Hal ini dapat memicu pengulangan tes yang tidak perlu (pemborosan biaya) atau kebingungan diagnosis.
Pada obat-obatan dengan indeks terapi sempit (contoh: antikoagulan atau obat imunosupresan), perbedaan hasil lab sebesar 10% saja bisa berakibat fatal. Traceability menjamin bahwa angka yang didapat adalah angka yang sebenarnya, sehingga dokter dapat menghitung dosis dengan tepat.
Pedoman medis global (seperti kriteria diagnosis Diabetes oleh WHO) dibuat berdasarkan penelitian yang menggunakan metode standar baku. Jika laboratorium lokal tidak traceable ke standar tersebut, maka cut-off atau nilai rujukan yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit menjadi tidak valid bagi pasien tersebut.
Bayangkan skenario pengukuran Kreatinin untuk fungsi ginjal. Jika kalibrator alat tidak tertelusur ke standar Isotope Dilution Mass Spectrometry (IDMS), hasil kreatinin bisa bias positif (lebih tinggi palsu). Akibatnya, estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) menjadi rendah palsu. Pasien bisa didiagnosis Gagal Ginjal Kronis padahal ginjalnya sehat, atau sebaliknya, dosis obat kemoterapi dikurangi secara tidak perlu yang menyebabkan pengobatan kanker menjadi tidak efektif.
Untuk memahami lebih dalam mengenai bagaimana standar kualitas dan akreditasi seperti ISO 15189 menjamin hal ini, simak penjelasan berikut:
Salah satu hambatan terbesar yang jarang dibahas oleh artikel awam adalah commutability (komutabilitas). Seringkali, materi referensi (kalibrator) yang dibuat pabrik berperilaku berbeda dengan serum darah manusia asli saat bereaksi dengan reagen.
Jika materi kalibrator tidak “komutabel” (tidak meniru sifat sampel pasien), maka rantai ketertelusuran bisa putus di tengah jalan. Oleh karena itu, laboratorium modern dituntut untuk memverifikasi klaim ketertelusuran dari manufaktur reagen mereka dan rutin melakukan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) untuk membandingkan performa mereka dengan laboratorium lain.
Bagi pengelola laboratorium, menjaga traceability bukan sekadar kepatuhan regulasi, melainkan kewajiban moral. Langkah yang harus diambil meliputi:
Bagi kamu sebagai pasien, pilihlah laboratorium yang telah terakreditasi (misalnya oleh KAN di Indonesia dengan ISO 15189). Akreditasi adalah bukti formal bahwa laboratorium tersebut telah menerapkan sistem ketertelusuran yang valid.
Traceability adalah jembatan yang menghubungkan hasil tes di tanganmu dengan kebenaran ilmiah yang absolut. Tanpanya, kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine) akan runtuh. Dengan memastikan setiap hasil laboratorium tertelusur ke standar internasional, kita tidak hanya menjaga kualitas data, tetapi secara harfiah melindungi keselamatan pasien dari kesalahan diagnosis dan terapi. Di masa depan, integrasi teknologi blockchain mungkin akan digunakan untuk merekam jejak digital ketertelusuran ini secara transparan, membawa era baru dalam keamanan data medis.
TTLM at RSUD Dr. Soetomo, Surabaya (Hematology and Immunohistochemistry Technician)