Bekerja di laboratorium medis menempatkan kamu di garis terdepan dalam menghadapi patogen berbahaya, di mana risiko infeksi nosokomial atau Healthcare-Associated Infections (HAIs) bukan sekadar teori, melainkan ancaman nyata yang mengintai setiap prosedur analitis. Berbeda dengan area perawatan pasien, laboratorium memiliki dinamika risiko biologis yang unik, mulai dari aerosolisasi saat sentrifugasi hingga risiko tertusuk jarum infeksius, yang menuntut penerapan standar biosafety yang jauh lebih ketat dan disiplin tinggi demi keselamatan diri serta validitas hasil pemeriksaan.
Secara umum, Healthcare-Associated Infections (HAIs) didefinisikan sebagai infeksi yang didapat saat seseorang berada di fasilitas layanan kesehatan. Namun, bagi petugas laboratorium, definisi ini meluas mencakup Laboratory-Acquired Infections (LAIs). Literatur ilmiah menunjukkan bahwa tingkat kejadian infeksi pada petugas laboratorium bisa lebih tinggi dibandingkan populasi umum jika protokol Universal Precautions diabaikan.
Sumber bahaya di laboratorium tidak selalu terlihat. Agen biologis seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit dapat mentransmisikan penyakit melalui rute yang sering kali tidak disadari oleh teknisi yang sedang bekerja di bawah tekanan waktu.
Keselamatan di laboratorium bukan hanya tentang melindungi diri sendiri, tetapi juga mencegah keluarnya patogen ke lingkungan komunitas dan menjaga sterilitas sampel pasien.
Untuk memutus mata rantai infeksi, kamu harus memahami terlebih dahulu bagaimana mikroorganisme berpindah. Dalam konteks laboratorium, terdapat empat rute utama transmisi:
Dalam manajemen risiko K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), pencegahan infeksi nosokomial harus mengikuti hierarki pengendalian. Fokus utamanya bukan hanya pada pemakaian APD, melainkan pada sistem yang lebih fundamental.
| Tingkat Pengendalian | Deskripsi | Contoh Implementasi di Laboratorium |
|---|---|---|
| Eliminasi | Menghilangkan bahaya secara fisik. | Menghentikan kultur patogen yang sangat berbahaya jika tidak diperlukan untuk diagnosis. |
| Substitusi | Mengganti bahaya dengan yang lebih rendah risikonya. | Menggunakan strain bakteri yang dilemahkan (atenuasi) untuk kontrol kualitas. |
| Engineering Controls | Mengisolasi pekerja dari bahaya. | Penggunaan Biosafety Cabinet (BSC) Kelas II, penggunaan centrifuge dengan safety buckets tertutup. |
| Administrative Controls | Mengubah cara orang bekerja. | Penerapan SOP, vaksinasi Hepatitis B bagi petugas, pelatihan berkala. |
| APD (PPE) | Melindungi pekerja dengan peralatan. | Jas lab, sarung tangan nitril, masker N95, pelindung mata. |
Penerapan kewaspadaan standar adalah fondasi utama dalam mencegah HAIs. Setiap spesimen pasien harus dianggap infeksius, terlepas dari diagnosis pasien tersebut. Berikut adalah elemen kunci yang wajib kamu terapkan:
Mencuci tangan adalah metode paling efektif untuk mencegah penyebaran patogen. Bagi petugas laboratorium, momen mencuci tangan sedikit berbeda dengan perawat di bangsal. Kamu wajib mencuci tangan:
Referensi Video: WHO: How to handwash? With soap and water (World Health Organization).
APD bukanlah pengganti perilaku kerja yang aman, melainkan pertahanan terakhir. Pemilihan APD harus disesuaikan dengan asesmen risiko (Risk Assessment).
Tumpahan bahan biologis adalah insiden yang sering terjadi dan menjadi sumber utama infeksi nosokomial bagi petugas. Kamu harus memahami prosedur penggunaan Spill Kit.
Perilaku dan kedisiplinan petugas memegang peranan vital. Beberapa aturan emas yang tidak boleh dilanggar meliputi:
Menyimpan makanan atau minuman di lemari pendingin (kulkas) yang sama dengan reagen atau spesimen adalah pelanggaran berat. Aplikasi kosmetik, termasuk lip balm atau lensa kontak, dilarang keras di area teknis laboratorium.
Gunakan alat bantu pipet mekanis. Pastikan aliran cairan tidak menimbulkan gelembung yang bisa pecah menjadi aerosol. Saat mengeluarkan cairan dari pipet, alirkan melalui dinding tabung, jangan dijatuhkan dari ketinggian.
Jangan pernah melakukan recapping (menutup kembali jarum suntik) dengan dua tangan. Jika terpaksa harus menutup jarum, gunakan teknik satu tangan (one-hand scoop technique). Segera buang jarum ke dalam Safety Box atau wadah tahan tusuk yang tidak terisi lebih dari 3/4 bagian.
Pencegahan infeksi juga didukung oleh zonasi laboratorium yang jelas. Laboratorium harus memisahkan area “Bersih” (administrasi) dan area “Kotor” (pemrosesan sampel). Arah aliran udara (ventilasi) harus dipastikan bergerak dari area bersih ke area kotor (tekanan negatif pada ruang infeksius) untuk mencegah patogen menyebar ke koridor umum.
Mencegah infeksi nosokomial atau Healthcare-Associated Infections (HAIs) bagi petugas laboratorium memerlukan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan kedisiplinan individu, ketersediaan alat pelindung yang memadai, dan kontrol administratif yang kuat. Sebagai petugas laboratorium, kesadaran kamu terhadap prosedur biosafety adalah kunci untuk pulang ke rumah dengan aman setiap hari. Ingatlah bahwa kepatuhan terhadap SOP bukan hanya sekadar kewajiban regulasi, melainkan wujud tanggung jawab moral terhadap diri sendiri, rekan kerja, dan pasien.
Daftar Referensi
TTLM at RSUD Dr. Soetomo, Surabaya (Hematology and Immunohistochemistry Technician)