Mencegah Infeksi Nosokomial bagi Petugas Laboratorium

Bekerja di laboratorium medis menempatkan kamu di garis terdepan dalam menghadapi patogen berbahaya, di mana risiko infeksi nosokomial atau Healthcare-Associated Infections (HAIs) bukan sekadar teori, melainkan ancaman nyata yang mengintai setiap prosedur analitis. Berbeda dengan area perawatan pasien, laboratorium memiliki dinamika risiko biologis yang unik, mulai dari aerosolisasi saat sentrifugasi hingga risiko tertusuk jarum infeksius, yang menuntut penerapan standar biosafety yang jauh lebih ketat dan disiplin tinggi demi keselamatan diri serta validitas hasil pemeriksaan.

Memahami Infeksi Nosokomial dalam Konteks Laboratorium

Secara umum, Healthcare-Associated Infections (HAIs) didefinisikan sebagai infeksi yang didapat saat seseorang berada di fasilitas layanan kesehatan. Namun, bagi petugas laboratorium, definisi ini meluas mencakup Laboratory-Acquired Infections (LAIs). Literatur ilmiah menunjukkan bahwa tingkat kejadian infeksi pada petugas laboratorium bisa lebih tinggi dibandingkan populasi umum jika protokol Universal Precautions diabaikan.

Sumber bahaya di laboratorium tidak selalu terlihat. Agen biologis seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit dapat mentransmisikan penyakit melalui rute yang sering kali tidak disadari oleh teknisi yang sedang bekerja di bawah tekanan waktu.

Keselamatan di laboratorium bukan hanya tentang melindungi diri sendiri, tetapi juga mencegah keluarnya patogen ke lingkungan komunitas dan menjaga sterilitas sampel pasien.

Identifikasi Jalur Penularan Agen Infeksius

Untuk memutus mata rantai infeksi, kamu harus memahami terlebih dahulu bagaimana mikroorganisme berpindah. Dalam konteks laboratorium, terdapat empat rute utama transmisi:

  1. Inhalasi (Aerosols): Ini adalah rute yang paling sering diabaikan namun sangat berbahaya. Prosedur seperti mengocok (vortexing), sentrifugasi tanpa tutup pengaman, atau membuka tabung vakum dapat melepaskan partikel aerosol infeksius ke udara.
  2. Inokulasi Perkutan: Terjadi akibat luka tusuk jarum (needle stick injury), pecahan kaca, atau benda tajam lainnya yang terkontaminasi.
  3. Kontak Mukosa: Percikan sampel ke mata, hidung, atau mulut. Hal ini sering terjadi jika petugas tidak menggunakan pelindung wajah (face shield) atau goggles saat menangani cairan tubuh.
  4. Ingesti (Tertelan): Meskipun praktik memipet dengan mulut sudah dilarang keras, risiko ingestasi masih ada melalui transfer tangan ke mulut (misalnya, menyentuh mulut dengan sarung tangan terkontaminasi atau makan di area kerja).

Hierarki Pengendalian Bahaya (Hierarchy of Control)

Dalam manajemen risiko K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), pencegahan infeksi nosokomial harus mengikuti hierarki pengendalian. Fokus utamanya bukan hanya pada pemakaian APD, melainkan pada sistem yang lebih fundamental.

Tingkat Pengendalian Deskripsi Contoh Implementasi di Laboratorium
Eliminasi Menghilangkan bahaya secara fisik. Menghentikan kultur patogen yang sangat berbahaya jika tidak diperlukan untuk diagnosis.
Substitusi Mengganti bahaya dengan yang lebih rendah risikonya. Menggunakan strain bakteri yang dilemahkan (atenuasi) untuk kontrol kualitas.
Engineering Controls Mengisolasi pekerja dari bahaya. Penggunaan Biosafety Cabinet (BSC) Kelas II, penggunaan centrifuge dengan safety buckets tertutup.
Administrative Controls Mengubah cara orang bekerja. Penerapan SOP, vaksinasi Hepatitis B bagi petugas, pelatihan berkala.
APD (PPE) Melindungi pekerja dengan peralatan. Jas lab, sarung tangan nitril, masker N95, pelindung mata.

Penerapan Kewaspadaan Standar (Standard Precautions)

Penerapan kewaspadaan standar adalah fondasi utama dalam mencegah HAIs. Setiap spesimen pasien harus dianggap infeksius, terlepas dari diagnosis pasien tersebut. Berikut adalah elemen kunci yang wajib kamu terapkan:

1. Kebersihan Tangan (Hand Hygiene)

Mencuci tangan adalah metode paling efektif untuk mencegah penyebaran patogen. Bagi petugas laboratorium, momen mencuci tangan sedikit berbeda dengan perawat di bangsal. Kamu wajib mencuci tangan:

  • Segera setelah melepas sarung tangan (gloves).
  • Setelah menyentuh area kerja yang berpotensi terkontaminasi.
  • Sebelum meninggalkan area laboratorium.
  • Sebelum menyentuh area bersih (seperti gagang telepon atau gagang pintu keluar).

Referensi Video: WHO: How to handwash? With soap and water (World Health Organization).

2. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang Tepat

APD bukanlah pengganti perilaku kerja yang aman, melainkan pertahanan terakhir. Pemilihan APD harus disesuaikan dengan asesmen risiko (Risk Assessment).

  • Jas Laboratorium: Harus berlengan panjang, dikancingkan penuh, dan tidak boleh dibawa pulang untuk dicuci di rumah. Pencucian harus dilakukan oleh layanan laundry infeksius rumah sakit.
  • Sarung Tangan: Pilih bahan nitril atau lateks berkualitas tinggi. Jangan pernah mencuci sarung tangan sekali pakai atau menggunakan hand sanitizer di atas sarung tangan, karena dapat merusak integritas pori-pori bahan.
  • Pelindung Mata dan Wajah: Gunakan saat memproses sampel di luar BSC yang berpotensi memercik.

Manajemen Tumpahan Infeksius (Spill Management)

Tumpahan bahan biologis adalah insiden yang sering terjadi dan menjadi sumber utama infeksi nosokomial bagi petugas. Kamu harus memahami prosedur penggunaan Spill Kit.

Langkah Penanganan Tumpahan:
1. Beri tanda peringatan dan evakuasi area jika tumpahan besar.
2. Tunggu 30 menit agar aerosol mengendap (jika di luar BSC).
3. Gunakan APD lengkap (termasuk pelindung sepatu jika perlu).
4. Tutup tumpahan dengan bahan penyerap (tisu/kain).
5. Tuangkan disinfektan (biasanya klorin 0.5%) secara memutar dari luar ke dalam.
6. Biarkan waktu kontak (contact time) sesuai instruksi disinfektan (biasanya 10-20 menit).
7. Buang limbah ke wadah limbah infeksius (kantong kuning).

Praktik Kerja yang Aman (Safe Work Practices)

Perilaku dan kedisiplinan petugas memegang peranan vital. Beberapa aturan emas yang tidak boleh dilanggar meliputi:

1. Larangan Makanan dan Kosmetik

Menyimpan makanan atau minuman di lemari pendingin (kulkas) yang sama dengan reagen atau spesimen adalah pelanggaran berat. Aplikasi kosmetik, termasuk lip balm atau lensa kontak, dilarang keras di area teknis laboratorium.

2. Teknik Pipetting yang Benar

Gunakan alat bantu pipet mekanis. Pastikan aliran cairan tidak menimbulkan gelembung yang bisa pecah menjadi aerosol. Saat mengeluarkan cairan dari pipet, alirkan melalui dinding tabung, jangan dijatuhkan dari ketinggian.

3. Pengelolaan Benda Tajam (Sharps Safety)

Jangan pernah melakukan recapping (menutup kembali jarum suntik) dengan dua tangan. Jika terpaksa harus menutup jarum, gunakan teknik satu tangan (one-hand scoop technique). Segera buang jarum ke dalam Safety Box atau wadah tahan tusuk yang tidak terisi lebih dari 3/4 bagian.

Peran Desain Laboratorium dan Alur Kerja

Pencegahan infeksi juga didukung oleh zonasi laboratorium yang jelas. Laboratorium harus memisahkan area “Bersih” (administrasi) dan area “Kotor” (pemrosesan sampel). Arah aliran udara (ventilasi) harus dipastikan bergerak dari area bersih ke area kotor (tekanan negatif pada ruang infeksius) untuk mencegah patogen menyebar ke koridor umum.

Kesimpulan

Mencegah infeksi nosokomial atau Healthcare-Associated Infections (HAIs) bagi petugas laboratorium memerlukan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan kedisiplinan individu, ketersediaan alat pelindung yang memadai, dan kontrol administratif yang kuat. Sebagai petugas laboratorium, kesadaran kamu terhadap prosedur biosafety adalah kunci untuk pulang ke rumah dengan aman setiap hari. Ingatlah bahwa kepatuhan terhadap SOP bukan hanya sekadar kewajiban regulasi, melainkan wujud tanggung jawab moral terhadap diri sendiri, rekan kerja, dan pasien.

Daftar Referensi

  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2020). Biosafety in Microbiological and Biomedical Laboratories (BMBL) (6th ed.). U.S. Department of Health and Human Services.
  • World Health Organization (WHO). (2020). Laboratory Biosafety Manual (4th ed.). World Health Organization.
  • Occupational Safety and Health Administration (OSHA). (2019). Occupational Exposure to Bloodborne Pathogens; Needlestick and Other Sharps Injuries. U.S. Department of Labor.
  • Sewunet, T., et al. (2014). Survey of safety practices in hospital laboratories in Ethiopia. Laboratory Medicine, 45(4), e121-e130.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja Laboratorium Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI.
5/5 - (1 vote)

TTLM at RSUD Dr. Soetomo, Surabaya (Hematology and Immunohistochemistry Technician)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sangat Direkomendasikan